Cito Mall, Jl. A. Yani 288, Lantai UG Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya
081-252982900
groedu@gmail.com

FINTECH DAN BAGAIMANA MASA DEPAN BISNIS PERBANKAN

The Best consultant business in Surabaya

FINTECH DAN BAGAIMANA MASA DEPAN BISNIS PERBANKAN

Saat ini fintech atau financial technology merupakan salah satu arena bisnis yang diramalkan akan terus melesat. Tahun ini para venture capital raksasa telah menginjeksi dana hingga Rp. 100 triliun lebih untuk puluhan start up fintech di asia. Gelombang kelahiran start up di arena fintech ini diprediksi akan memberikan dampak yang signifikan bagi arah masa depan dunia perbankan di tanah air. Bagaimana sebenarnya peta start up fintech di tanah air ? dan bagaimana implikasi pertumbuhan fintech bagi masa depan bisnis bank di tanah air ? secara garis besar, pertumbuhan utama fintech di tanah air sejatinya bisa dipetakan dalam dua kategori. Dua bidang inilah yang mendominasi pertumbuhan stast up fintech di tanah air selama beberapa tahun terakhir. Kami akan menceritakan dua kategori tersebut :
Fintech arena #1 : smartphone payment
Harus segera disampaikan dalam arena aplikasi payment fintech ini karena telah hadir puluhan players baik besar dan kecil dan saling bersaing. Dengan kata lain arena online payment ini sudah cukup crowded. Beberapa pemain kunci di negara ini antaranya Doku Wallet, GoPay, GrabPay, E-Cash (punya bank Mandiri, beda dengan E-Money), Sakuku (punya BCA, beda dengan Flazz), Tcash Telkomsel, hingga UniqKu (punya Bank BNI). Payment fintech intinya adalah produk yang membuat kita bisa melakukan pembayaran yang cukup hanya dengan smartphone. Kita tidak perlu lagi kartu semacam e-money mandiri, flazz bca atau e-toll bahkan kartu kredit. Dengan media smartphone sebagai alat pembayaran, maka pembayaran biaya langganan (listrik, PAM, dll), belanja di gerai-gerai online atau belanja di offline merchants menjadi sangat mudah. Itulah fenomena yang disebut sebagai “Cashless Nation”. Uang fisik dan kartu debit makin hilang dari proses transaksi konsumen. Di China, fenomena ini sudah terjadi. Bahkan disana, para pengemis juga maunya hanya menerima pemberian uang secara digital.
Di tanah air pengguna payment fintech paling banyak adalah Gopay by Gojek (11 juta pelanggan) dan Tcash Telkomsel (10 juta pelanggan). Kunci keberhasilan fintech payment adalah yang pertama ada pada penggunanya dan kedua pada merchant yang mau menerima pembayaran via aplikasi yang disediakan para fintech players. Layanan aplikasi payment via smartphone yang diberikan perbankan masih tertinggal, misal sakuku milik BCA baru mempunyai 500 ribu pengguna dan jauh dibawah gopay. Kesalahan bank yaitu mereka tidak bisa menyatukan aplikasi smartphone payment mereka dengan aplikasi Mobile Banking yang telah mereka miliki.
Aplikasi Mobile Banking Bank sebenarnya sangat powerful sebagai fintech. Sayangnya, fitur-fitur baru seperti E-cash dibuat dalam aplikasi yang terpisah tidak menyatu dengan aplikasi Mobile Banking. Mari kita mengambil contoh Mobile Banking BCA yang penggunanya sudah mencapai puluhan juta dan ajaibnya adalah kenapa mereka mengenalkan aplikasi e-cash Sakuku sebagai aplikasi terpisah yang mengharuskan penggunanya untuk download lagi. Daftar lagi dan tidak user-friendly.

Manfaat penggunaan E-payment
Dalam implementasinya, e-payment memiliki berbagai manfaat diantaranya :
– Meningkatkan efisiensi pembayaran
– Meningkatkan customer loyality
– Memberikan keamanan bertransaksi yang lebih dibandingkan cash
– Meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu
– Memberikan kemudahan pembayaran dan perluasan media pembayaran
Sistem pembayaran
Sistem pembayaran (E-payment system) memerlukan suatu persyaratan yang mencakup :
– Konfidensialitas : Untuk menjamin bahwa konsumen, pedagang dan informasi transaksi pembayaran tetap konfidensial.
– Integritas : Dari semua data yang ditransmisikan melalui jaringan publik seperti Internet.
– Otentikasi : Dari pihak pembeli maupun pihak pedagang
– Keamanan : Berkaitan dengan perlindungan atau jaminan keamanan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
– Mekanisme privacy : Untuk pertukaran informasi yang sifatnya umum maupun pertukaran data pembayaran.
– Divisibilitas : Berkaitan dengan spesifikasi praktis transaksi baik untuk volume besar maupun transaksi skala kecil.
– Interoperabilitas : Dari perangkat lunak, maupun jaringan dari penerbit kartu kredit dan perbankan.
Beberapa macam sistem pemabayaran e-payment antara lain :
– E-cash : salah satu bentuk dari electronic payment yang sekarang ini sangat banyak digunakan. E-Cash merupakan gambaran dari simbol elektronik yang memiliki nilai (bit) dan seringkali digunakan dalam transaksi barang dan jasa. E-Cash dipublikasikan oleh institusi legal, perusahaan dan organisasi. E-Cash biasanya memiliki keterbatasan penerimaan (tergantung seberapa besar publisher market-nya) (Trihasta dan Fajaryanti, 2008).
– Smart card : kartu sejenis ATM yang disatukan dengan integrated circuit (IC) yang mana dapat memproses informasi. Smart card juga digunakan untuk menyimpan data pribadi, kesehatan, dan informasi asuransi. Banyak smart card yang menggunakan kombinasi password atau PIN (Trihasta dan Fajaryanti, 2008).
– Sistem e-cheque : untuk mendukung dan memperluas fungsi belanja online dan cara kerjanyapun sama seperti cek kertas konvensional.
– E-wallet : Pembayaran dilakukan dengan menyimpan nomor kartu kredit dalam kondisi terenkripsi dengan aman. Pembelian dilakukan pada situs web yang mendukung e-wallet tersebut. Pada saat tombol “pay” ditekan maka proses pembayaran melalui kartu kredit akan dilakukan transaksinya secara aman oleh server perusahaan e-wallet.
Perbandingan antara pembayaran menggunakan e-payment dengan pembayaran secara konvensional
– E-Payment -> Menggunakan metode yang kompleks dalam melakukan proses pembayaran dan memiliki sistem keamanan sendiri (lebih aman)
– Konvensional -> Pengisian formulir pembayaran dilakukan secara manual (keamanan tidak terjamin)
Kelebihan e-payment diantaranya
– Lebih cepat atau nyaman dalam melakukan transaksi pembayaran
– Pilihan produk layanan dapat terus ditingkatkan
– Lebih efektif dan efisien waktu
– Memberikan keamanan dalam bertransaksi
Kerugian yang mungkin muncul
– Infrastuktur Telekomunikasi di Indonesia masih terbatas dan harganya masih relatif lebih mahal
– Orang Indonesia masih belum/tidak terbiasa melakukan pembayaran elektronik
– Masalah keamanan yang membuat orang takut melakukan transaksi
– Munculnya kejahatan baru
– Kurangnya pengetahuan IT di Indonesia
– Tidak semua orang memiliki akses terhadap internet
Fintech #2 : online lending
Fintech kategori kedua yang juga banyak pemainnya adalah dalam arena Lending. Layanan fintech lending ini intinya adalah memberikan jasa pinjaman modal secara online. Beberapa key players dalam online lending fintech ini diantaranya adalah Uangteman, Modalku, InvesTree, Amartha, dan Kredivo. Layanan InvesTree bahkan mengambil bentuk peer-to-peer lending yang artinya pinjaman yang mereka tawarkan kepada yang butuh dikumpulkan dari para investor retail yang tertarik menanamkan uangnnya di layanan mereka jadi semacam crowdfunding juga.
Peer-to-peer lending ini merupakan alternatif pembiayaan yang menarik dan hanya bisa dimunculkan oleh fintech players. Jika online peer-to-peer lending ini sukses menjaga tingkat pengembalian pinjaman maka layanan ini hampir pasti akan menggerus pendapatan utama bank bank. Yang menarik sejumlah fintech lending di luar negeri telah menggunakan big data analythic dan artificial intelligence untuk memprediksi tingkat kemampuan pinjaman dalam mengembalikan hutangnya. Prediksi ini jauh lebih akurat daripada model analisa jadul bank bank dalam menilai kredit calon nasabahnya. Itulah mengapa kredit macet di berbagai fintech lending di luar negeri dangat kecil. Ini semua karena bantuan bug data dan artificial intelligence. Big data dan AI intinya mampu menelusuri jutaan jejak online dan perilaku belanja online Anda, dan dari sini dengan cerdas bisa memprediksi kemampuan keuangan Anda, dan kemampuan Anda dalam membayar hutang.